Puisi

Membaca firasat sunyi di Matamu
(Kepada Nek, Samliah)

Di malam yang mengalirkan keheningan hingga ke ubun ubun
Aku merasakan detak jantungmu
Berdetak sepi, dan kau memandangi wajahku penuh mesra, dengan segala kehangatan yang bernama cinta di tubuhmu
Sebab aku tahu, kau adalah seribu muara cerita dari masa lalu yang getir dan penuh luka
Dan hari ini aku hendak berada tepat dalam kesunyian di tubuhmu
Sambil mendengarkan dongeng dongeng purbamu yang syahdu menjelma kisah klasik dan tragedi dalam puisi pun sajak cintamu

Nek, aku ingin tinggal sejenak di matamu, menunggu bunga tumbuh mekar dan hingga nantinya pun layu
Menyusuri hutan kenangan penuh cahaya
Menikmati binar kesedihan ketika kelopaknya mengerlip hingga terlelap dalam tidur tanpa prasangka
Biar aku belajar terus hidup penuh cinta
Seperti dalam hikayat kisahmu
Yang kau toreh pada setiap pagi sebelum matahari pecah di kejauhan
Dan bayang bayang menjadi satu

Nek, ceritakanlah kembali padaku tentang kisah heroik Kakek
Sambil aku belajar membaca firasat waktu yang kau sembunyikan di wajahmu,
Metafora di senyum kecilmu yang masih saja tak mampu aku terjemahkan
Dengan sepotong alegori
Tanda dan semiotika

dua kutub hadir  saling menarik kematian
Air sungai yang terus mengalir menuju ke laut, sebab laut adalah tempatnya berpulang
Mempertemukan kerinduan

Di matamulah sunyi itu bermain diam diam
Dari rahasia ke rahasia

Nek, aku ingin sejenak tinggal di tubuhmu
Berpuisi dan sajak tentang keindahan
Dan juga tentang kematian
Tentang semangat luar biasa
Agar hidup menjadi baik dengan cinta

Nek, kau adalah rumah tempatku datang membawa penat dan kesah
Rumah, tempatku membaca rumus kehidupan dan menerjemahkan firasat sunyi

Manyampa, di tahun 2019

________      ____________________
Penulis: Rahma Aryanti Bahtiar
Penikmat sastra dan politik dari Bulukumba

Puisi

Di Suatu Hari yang Hujan

Hari ini kita tidak akan kemana mana  hujan telah turun seharian di kota ini, seribu sayup suara suara kecil angin menyergap kebisuan,
menyergap sunyi
menyergap setiap tanya,
lalu menjelma diam kedalam setiap ingatan yang menyimpan rahasia terburuk kehidupan
Tentang kenangan hutan hutan kecil di seberang dermaga, tentang cerita purba bukit bukit dan jalan setapak merah, tentang cerita indah mawar dan melati

Sayang, tahukah kau
Ada sajak gulana yang lebih dulu tiba disini lalu Bunuh diri
Sebelum hujan ini datang
Dan saat ini Mungkin ia sedang menjelma kedalam suara suara itu

Hari ini hujan akan lama,
Saya tahu sepanjang jalan akan penuh romantisme dan penuh dengan cerita tentang hujan hari ini
daun daun trambesi  berjatuhan, akan menjadi kabar penutup yang akan di terbangkan angin kemana mana

Hari ini jika saja hujan menjadi reda
Aku ingin mengajakmu pergi bertualang,
ke atas langit, menggusur kesedihan,
Dan segala yang bernama ketakutan diantara kita karena cinta,
Di perjalanan akan kuceritakan padamu banyak hal tentang tragedi
Cerita tentang laut yang kehilangan nafas, cerita tentang hutan yang mati di perkosa sore kemarin oleh sekumpulan kaya, tentang sekumpulan burung putih yang selalu terbang di sekitar gedung karena kehilangan rumah dan menjadi lupa dengan arah,
tentang melati dan mawar yang enggan tumbuh di halaman rumah
Dan termasuk tentang kita yang masih saja begitu rahasia

kita akan pergi ke tepian langit merona itu di ujung senja, kerumah matahari,
Berteduh pada seribu cahaya yang berdiam

Bukankah selalu kukatakan bahwa Aku adalah yang selalu datang menjelma hening
Ketika kau menjadi gerimis lebat yang sulit di bendung angin
sungai-sungai yang mengalir ke hatimu
Ketika kau menjadi laut seharian
Tapi sementara ini, aku dan kau adalah seribu fragmen dan alegori dalam puisi dan sajak  di sepotong bahagia
yang hari ini kita seduh dalam segelas kopi hitam bersama tanpa pemanis buatan
Melewatkan hari yang penuh hujan
Sambil menunggu waktu yang baik
Menumpahkan sesak rindu
Juga segala Kemarahan di hati
Menuju ke langit

Makassar Pebruari, 2019

Penulis: Sapri Ar
Penikmat sastra dan Seni
di Makassar Sul Sel
Dari sanggar merah putih makassar

Puasa itu Baik Untuk Kesehatan

Berbagai penelitian medis membuktikan, puasa dapat mencegah penyakit-penyakit, baik yang bersifat psikis maupun fisik. Pertama-tama, puasa dinilai mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh. Hal itu pada gilirannya dapat mencegah masuknya pelbagai bibit penyakit, seperti yang di langsir di laman Republika.co.idDengan berpuasa, indikator fungsional sel-sel getah bening akan membaik hingga 10 kali lipat. Kemudian, persentase sel-sel yang bertanggung jawab atas kekebalan spesifik (limfosit 1) juga kian banyak.

Selain itu, beberapa jenis antibodi dalam tubuh akan bertambah pesat. Demikian pula, reaksi ketahanan akan meningkat sebagai akibat dari bertambahnya protein lemak yang berkepadatan rendah.

Anda sedang ingin berdiet? Berpuasalah! Puasa mencegah kegemukan (obesitas) yang membawa pelbagai dampak negatif. Kegemukan dapat diakibatkan adanya gangguan dalam pencernaan makanan. Selain itu, faktor kegemukan juga ditemukan dari tekanan lingkungan, kejiwaan, atau sosial. Semua stres itu adakalanya datang bersama-sama.

Semua faktor yang dapat menyebabkan kegemukan dapat dicegah dengan melalui puasa. Apalagi, puasa bukanlah diet yakni semata-mata menolak masuknya makanan. Dalam berpuasa, ada ketenangan batin yang dipicu nuansa keimanan yang tinggi. Isilah waktu berpuasa dengan banyak beribadah dan berzikir, termasuk membaca Alquran. Dengan menghindari emosi, kecemasan serta menahan hawa nafsu, seseorang dapat mengarahkan seluruh energi ke arah yang positif dan bermanfaat.

Puasa juga dapat mencegah pembentukan batu-batu ginjal. Sebab, berpuasa berarti ikut menambah tingkat sodium, yang kemudian mencegah kristalisasi garam kalsium.

Selain itu, bertambahnya zat urine juga dapat membantu mencegah jatuhnya garam air kencing yang membentuk batu–batu pada saluran kencing.

Puasa Ramadhan juga selaras dengan logika keseimbangan. Sebelas bulan lamanya sistem pencernaan bekerja tak henti-henti karena tubuh terus dipasok makanan dan minuman. Saat Ramadhan, sistem tersebut “beristirahat” 12 jam lamanya. Karena itu, ada pula imbauan untuk berbuka puasa secukupnya. Jangan jadikan momen buka puasa dan sahur sebagai “balas dendam”, yakni dengan makan sebanyak-banyaknya. Bila hal itu terjadi, makna keseimbangan akan hilang.

Sumber: Republika.co.id// Buku Panduan Ramadhan ‘